Xabi Prieto: Sebuah Kisah Cantik Soal Cinta dan Kesetiaan dari San Sebastian

No Comments

Di jaman kini, one-club men telah jadi komoditas langka di dunia sepak bola. Makin menuju sini, jumlahnya makin berkurang.

Satu dari sekian banyak yang belum lama pensiun merupakan Xabi Prieto. Dari awal sampai penghujung, ia cuma membela Real Sociedad di Negara Matador Spanyol.

Kecintaan dan kesetiaan lelaki dari San Sebastian 34 tahun lalu ini kepada tim kota kelahirannya tampak seperti tidak tersedia batasnya. Sepanjang nyaris 15 tahun, mantan pemain berposisi gelandang Spanyol itu senantiasa mencurahkan semuanya untuk Txuri-urdinak, baik kala bahagia mau pun kesulitan, ketika turun kasta menuju Segunda mau pun berusaha di kasta paling tinggi La Liga.

Sepanjang belasan tahun tanpa trofi, namun mantan leader Sociedad ini dikabarkan oleh web livescore Spanyol tidak menyesalinya. Ia menikmati tiap-tiap waktu bareng Sociedad. Untuk Xabi Prieto, Sociedad merupakan cinta perdana juga terakhirnya.

Terus Ada Bagi Sociedad – Prieto gabung dengan tim kota kelahirannya ini pada usia 14. Dari kesebelasan junior, Prieto terus naik tingkat hingga menuju kesebelasan inti. Tidak berhenti sampai di situ, ia lantas jua diyakini mengenakan ban leader, dan endingnya berstatus legenda.

Sepanjang 14 tahun, dengan 13 juru tak-tik lain, 3 kampanye musim di Segunda, belasan kampanye musim di La Liga, saat berupaya di ajang top Liga Champions pada kampanye musim 2013/14, Prieto terus ada.

Perasaannya senantiasa sama, itu dia ungkapkan kepada prediksi bola dari semenjak ia masih anak-anak menjadi salah satu pendukung, saat menjalani debut vs Real Oviedo di Copa del Rey pada 2003, kala menyarangkan goal pertamanya di dalam kemenangan tandang 4-1 vs Real Madrid di La Liga pada 2004, sampai dengan endingnya gantung sepatu di kampanye musim 2017/18.

“Semenjak dari kecil, perasaan ini senantiasa ada. Senang,” tutur Prieto, sebagaimana sudah diberitakan oleh blog Piala Dunia.

Masih Setia Meski pada saat Kesulitan – Kampanye musim 2006/07, Sociedad finis posisi 19 di La Liga dan turun kasta menuju Segunda. Prieto sebenarnya dapat saja gabung tim lainnya di divisi utama ataupun menuju luar Spanyol. Masa itu, banyak tim coba untuk mendatangkannya dari San Sebastian. Tapi Prieto memutuskan bertahan.

Usaha di Segunda tak simpel. Perlu 3 kampanye musim sebelum endingnya Sociedad balik lagi menuju kasta paling tinggi Spanyol.

Mengapa masa itu Prieto memutuskan untuk masih di Sociead? Di dalam sebuah wawancara dengan ESPN pada Oktober 2017, 2-3 minggu usai ia bisa sampai milestone 500 performa berjersey Sociedad, Prieto mengungkapkannya.

“Dari sudut pandang profesional, memang setingkat lebih bagus gabung kesebelasan divisi utama ataupun main di luar negeri. Tapi aku pikir aku tidak akan merasa setingkat lebih senang di zona lainnya,” kata Prieto ketika itu kepada berita bola terlengkap.

“Jadi aku menantang diri aku sendiri untuk mengantarkan La Real balik lagi menuju divisi utama. Ini setingkat lebih sukar ketimbang yang rombongan saya harapkan – perlu 3 tahun – namun akhirnya rombongan saya sukses. Tahun kami naik kasta itu adalah satu dari sekian banyak kejadian sangat cantik di dalam karier aku.”

“Saya girang. Ini jauh setingkat lebih bernilai daripada apa pun juga, setingkat lebih berharga ketimbang tawaran-tawaran yang sudah hadir pada aku.”

“Saya ingat bicara dengan agen aku waktu itu, jua dengan beberapa orang di keluarga aku yang berasumsi jika kemungkinan setingkat lebih bagus untuk aku untuk coba membentuk karier di zona lainnya. Tapi aku tidak sekalipun dapat membayangkan diri aku mengenakan jersey yang lain. Aku tidak 1 kali pun dapat membayangkan diri aku di zona selain San Sebastian.”

Kejadian Tidak Terlupakan – Giornata dua La Liga kampanye musim 2017/18, Sociedad melawan kesebelasan hebat Villarreal. Laga baru berlangsung sepuluh menit, score tengah 0-0, dan mendadak terdengar gemuruh aplaus di Anoeta seperti yang bisa kita baca di prediksi bola, para pendukung dengan cara berirama meneriakkan 1 nama, padahal tidak berlangsung apa-apa, bukanlah kesempatan emas mau pun goal yang terjadi.

1 nama ini merupakan Xabi Prieto, dan sepuluh merupakan nomornya. Pertandingan ini merupakan pertandingan ke-500 yang ia mainkan dengan jersey Sociedad.

Di partai ini, Prieto menyarangkan golnya yang ke-62, menghantarkan Sociedad unggul 3-0 dan melesat menuju pucuk klasemen sementara.

“Aku bakal mengingat hari ini seumur hidup aku,” tutur Prieto waktu itu. “Merasa disukai merupakan hal paling indah yang dapat aku dapat di sini.”

Tidak Ada Penyesalan – Sepanjang membela Sociedad, Prieto tidak sekalipun sempat merasakan nikmatnya mengangkat trofi mau pun dipanggil menuju kesebelasan senior La Furia Roja. Sepanjang beberapa tahun tanpa satupun piala bergengsi, Prieto tidak 1 kali pun menyesalinya.

“Meraih trofi memang sebuah mimpi, namun tanpa ini juga aku tidak akan angkat kaki dengan perasaan getir. Aku tidak akan menyesalinya seumur hidup aku,” katanya.

Prieto menikmati tiap waktu bareng Sociedad. – Gantung sepatu dengan 73 goal dan menjadi bintang dengan total performa paling banyak ke 5 (532) selama history Sociedad, Prieto sudah memberi semuanya. Tiap-tiap performa yang ditampilkan oleh spesialis penalti pemilik dribbling skill baik ini jua telah jadi memori cantik untuk para pendukung Sociedad.

Masanya Berpisah – Pada 13 Mei 2018, Sociedad memainkan pertandingan kandang terakhirnya di La Liga 2017/18. Ini jua jadi pertandingan terakhir Prieto di depan publik San Sebastian. Prieto telah memberitahukan sebulan sebelumnya jika ia bakal pensiun.

Masih dari laporan situs livescore Liga Inggris yang sama, untuk pertandingan vs Leganes di Anoeta ini, dewan Sociedad menyiapkan sebuah tribute khusus untuk leader mereka.

Khusus pertandingan itu, Sociedad mengganti emblem tim di jersey bintang dengan karikatur sosok Prieto. Hal itu adalah satu dari sekian banyak bentuk penghargaan kepada Prieto dengan seluruh dedikasi, cinta serta kesetiaan yang sudah ia perlihatkan sepanjang ini.

Nomor sepuluh yang dimanfaatkan Prieto sudah ‘diwariskan’ pada Mikel Oyarzabal.

“Aku amat bangga dapat mengenakan nomor ini. Membuntuti jejak Xabi merupakan sebuah kehormatan,” tutur Oyarzabal menurut situs resmi Sociedad yang dilansir Liga Champions.

Nomor sepuluh Sociedad sudah pindah pemilik. Tapi kisah cinta dan kesetiaan dari pemilik sebelumnya bakal senantiasa abadi.

Xabi Prieto telah jadi legenda Real Sociedad. Kesetiaannya sudah mengantarkan ia sejajar dengan para pemain legendaris sebagaimana Carles Puyol (Barcelona), Jamie Carragher (Liverpool), Ryan Giggs (Manchester United), Francesco Totti (AS Roma) mau pun Paolo Maldini (AC Milan) menjadi satu dari sekian banyak one-club men sepanjang sejarah sepak bola.

Leave a Reply

Your email address will not be published.