Manajer MU: Penghentian Laga lantaran Lagu Rasis di Liga 1 Wajib Diperjelas

No Comments

Beberapa masa lalu Wakil Ketum PSSI, Joko Driyono, menyatakan jika terdapat kontrak tentang penghentian laga jika muncul lagu berbau rasisme kala laga di sepakbola Indonesia khususnya Liga 1 2018.

Tapi, tak kunjung dipahami peraturan itu kapan mulai digunakan.

Lelaki yang akrab dipanggil Jokdri ini menyatakan memberi wewenang pada pemain-pemain yang di gelanggang.

Apabila di dalam laga dibunyikan lagu yang menghina tim lainnya, maka selanjutnya jadi hak pesepakbola buat meneruskan pertandingan ataupun enggak.

Mendengar peraturan itu, pelatih MU, Haruna Soemitro, paling dengan PSSI.

Menurut pendapatnya, telah sewajarnya peraturan itu ditegakkan.

“Saya rasa ini baik serta butuh berlakunya regulasi yang merancang ini, ” tutur Haruna.

“Itu pun yang aku usulkan sebab rombongan saya kepingin berlakunya respek di dalam satu laga, ” tutur Haruna melanjutkan.

Di samping itu Haruna menambahkan dia amat tak senang dengan nyanyian lagu rasisme di dalam satu laga.

Tentang peraturannya sebagaimana apakah, lelaki berkacamata ini meminta berlakunya regulasi yang tentu.

“Peraturan ini mesti secepatnya diberitahukan pada team saya. Maksudnya jika terdapat lagu rasis, artinya laga ini diberhentikan statusnya seperti apa, apa tuan rumah menerima kekalahan WO, ataupun cuma berhenti sejenak dulu, ataupun laga ini dilanjutkan menuju ke hari selanjutnya. Ini tentang teknisnya wajib diperjelas, ” tutur Haruna.

“Kalau tentang tujuannya aku setuju namun hanya soal teknisnya mesti yang butuh diberi penjelasan, ” pungkas Haruna.

Xabi Prieto: Sebuah Kisah Cantik Soal Cinta dan Kesetiaan dari San Sebastian

No Comments

Di jaman kini, one-club men telah jadi komoditas langka di dunia sepak bola. Makin menuju sini, jumlahnya makin berkurang.

Satu dari sekian banyak yang belum lama pensiun merupakan Xabi Prieto. Dari awal sampai penghujung, ia cuma membela Real Sociedad di Negara Matador Spanyol.

Kecintaan dan kesetiaan lelaki dari San Sebastian 34 tahun lalu ini kepada tim kota kelahirannya tampak seperti tidak tersedia batasnya. Sepanjang nyaris 15 tahun, mantan pemain berposisi gelandang Spanyol itu senantiasa mencurahkan semuanya untuk Txuri-urdinak, baik kala bahagia mau pun kesulitan, ketika turun kasta menuju Segunda mau pun berusaha di kasta paling tinggi La Liga.

Sepanjang belasan tahun tanpa trofi, namun mantan leader Sociedad ini dikabarkan oleh web livescore Spanyol tidak menyesalinya. Ia menikmati tiap-tiap waktu bareng Sociedad. Untuk Xabi Prieto, Sociedad merupakan cinta perdana juga terakhirnya.

Terus Ada Bagi Sociedad – Prieto gabung dengan tim kota kelahirannya ini pada usia 14. Dari kesebelasan junior, Prieto terus naik tingkat hingga menuju kesebelasan inti. Tidak berhenti sampai di situ, ia lantas jua diyakini mengenakan ban leader, dan endingnya berstatus legenda.

Sepanjang 14 tahun, dengan 13 juru tak-tik lain, 3 kampanye musim di Segunda, belasan kampanye musim di La Liga, saat berupaya di ajang top Liga Champions pada kampanye musim 2013/14, Prieto terus ada.

Perasaannya senantiasa sama, itu dia ungkapkan kepada prediksi bola dari semenjak ia masih anak-anak menjadi salah satu pendukung, saat menjalani debut vs Real Oviedo di Copa del Rey pada 2003, kala menyarangkan goal pertamanya di dalam kemenangan tandang 4-1 vs Real Madrid di La Liga pada 2004, sampai dengan endingnya gantung sepatu di kampanye musim 2017/18.

“Semenjak dari kecil, perasaan ini senantiasa ada. Senang,” tutur Prieto, sebagaimana sudah diberitakan oleh blog Piala Dunia.

Masih Setia Meski pada saat Kesulitan – Kampanye musim 2006/07, Sociedad finis posisi 19 di La Liga dan turun kasta menuju Segunda. Prieto sebenarnya dapat saja gabung tim lainnya di divisi utama ataupun menuju luar Spanyol. Masa itu, banyak tim coba untuk mendatangkannya dari San Sebastian. Tapi Prieto memutuskan bertahan.

Usaha di Segunda tak simpel. Perlu 3 kampanye musim sebelum endingnya Sociedad balik lagi menuju kasta paling tinggi Spanyol.

Mengapa masa itu Prieto memutuskan untuk masih di Sociead? Di dalam sebuah wawancara dengan ESPN pada Oktober 2017, 2-3 minggu usai ia bisa sampai milestone 500 performa berjersey Sociedad, Prieto mengungkapkannya.

“Dari sudut pandang profesional, memang setingkat lebih bagus gabung kesebelasan divisi utama ataupun main di luar negeri. Tapi aku pikir aku tidak akan merasa setingkat lebih senang di zona lainnya,” kata Prieto ketika itu kepada berita bola terlengkap.

“Jadi aku menantang diri aku sendiri untuk mengantarkan La Real balik lagi menuju divisi utama. Ini setingkat lebih sukar ketimbang yang rombongan saya harapkan – perlu 3 tahun – namun akhirnya rombongan saya sukses. Tahun kami naik kasta itu adalah satu dari sekian banyak kejadian sangat cantik di dalam karier aku.”

“Saya girang. Ini jauh setingkat lebih bernilai daripada apa pun juga, setingkat lebih berharga ketimbang tawaran-tawaran yang sudah hadir pada aku.”

“Saya ingat bicara dengan agen aku waktu itu, jua dengan beberapa orang di keluarga aku yang berasumsi jika kemungkinan setingkat lebih bagus untuk aku untuk coba membentuk karier di zona lainnya. Tapi aku tidak sekalipun dapat membayangkan diri aku mengenakan jersey yang lain. Aku tidak 1 kali pun dapat membayangkan diri aku di zona selain San Sebastian.”

Kejadian Tidak Terlupakan – Giornata dua La Liga kampanye musim 2017/18, Sociedad melawan kesebelasan hebat Villarreal. Laga baru berlangsung sepuluh menit, score tengah 0-0, dan mendadak terdengar gemuruh aplaus di Anoeta seperti yang bisa kita baca di prediksi bola, para pendukung dengan cara berirama meneriakkan 1 nama, padahal tidak berlangsung apa-apa, bukanlah kesempatan emas mau pun goal yang terjadi.

1 nama ini merupakan Xabi Prieto, dan sepuluh merupakan nomornya. Pertandingan ini merupakan pertandingan ke-500 yang ia mainkan dengan jersey Sociedad.

Di partai ini, Prieto menyarangkan golnya yang ke-62, menghantarkan Sociedad unggul 3-0 dan melesat menuju pucuk klasemen sementara.

“Aku bakal mengingat hari ini seumur hidup aku,” tutur Prieto waktu itu. “Merasa disukai merupakan hal paling indah yang dapat aku dapat di sini.”

Tidak Ada Penyesalan – Sepanjang membela Sociedad, Prieto tidak sekalipun sempat merasakan nikmatnya mengangkat trofi mau pun dipanggil menuju kesebelasan senior La Furia Roja. Sepanjang beberapa tahun tanpa satupun piala bergengsi, Prieto tidak 1 kali pun menyesalinya.

“Meraih trofi memang sebuah mimpi, namun tanpa ini juga aku tidak akan angkat kaki dengan perasaan getir. Aku tidak akan menyesalinya seumur hidup aku,” katanya.

Prieto menikmati tiap waktu bareng Sociedad. – Gantung sepatu dengan 73 goal dan menjadi bintang dengan total performa paling banyak ke 5 (532) selama history Sociedad, Prieto sudah memberi semuanya. Tiap-tiap performa yang ditampilkan oleh spesialis penalti pemilik dribbling skill baik ini jua telah jadi memori cantik untuk para pendukung Sociedad.

Masanya Berpisah – Pada 13 Mei 2018, Sociedad memainkan pertandingan kandang terakhirnya di La Liga 2017/18. Ini jua jadi pertandingan terakhir Prieto di depan publik San Sebastian. Prieto telah memberitahukan sebulan sebelumnya jika ia bakal pensiun.

Masih dari laporan situs livescore Liga Inggris yang sama, untuk pertandingan vs Leganes di Anoeta ini, dewan Sociedad menyiapkan sebuah tribute khusus untuk leader mereka.

Khusus pertandingan itu, Sociedad mengganti emblem tim di jersey bintang dengan karikatur sosok Prieto. Hal itu adalah satu dari sekian banyak bentuk penghargaan kepada Prieto dengan seluruh dedikasi, cinta serta kesetiaan yang sudah ia perlihatkan sepanjang ini.

Nomor sepuluh yang dimanfaatkan Prieto sudah ‘diwariskan’ pada Mikel Oyarzabal.

“Aku amat bangga dapat mengenakan nomor ini. Membuntuti jejak Xabi merupakan sebuah kehormatan,” tutur Oyarzabal menurut situs resmi Sociedad yang dilansir Liga Champions.

Nomor sepuluh Sociedad sudah pindah pemilik. Tapi kisah cinta dan kesetiaan dari pemilik sebelumnya bakal senantiasa abadi.

Xabi Prieto telah jadi legenda Real Sociedad. Kesetiaannya sudah mengantarkan ia sejajar dengan para pemain legendaris sebagaimana Carles Puyol (Barcelona), Jamie Carragher (Liverpool), Ryan Giggs (Manchester United), Francesco Totti (AS Roma) mau pun Paolo Maldini (AC Milan) menjadi satu dari sekian banyak one-club men sepanjang sejarah sepak bola.

Mascherano: Argentina Musti Bantu Messi

No Comments

Punggawa Argentina, Javier Mascherano, yakin jika Lionel Messi bakal jadi kunci di dalam jalan tim nasional di Piala Dunia 2018 yang akan datang. Tapi, dia jua memperingatkan jika ia beserta teman seklubnya mesti berusaha untuk membantunya.

Bekas pemain bola Barcelona ini bakal bermain di Piala Dunia yang empat kali selama karirnya pada sepakbola profesional. Data yang kami dapat dari livescore, di bulan Mei kemarin, dia pun mencatatkan performa yang ke-143 di kelas internasional, menyamai rekor legenda Inter, Javier Zanetti.

Di Rusia esok, Mascherano bakal bertindak menjadi kapten serta bakal kembali berlaga dengan Messi. Sosok berusia 34 tahun ini pun mempercayai jika kesempatan negerinya tuk masuk ke final semua bergantung di bakat superstar Barcelona tersebut.

“Satu harapan buat Piala Dunia yang akan datang merupakan Leo dapat jadi versi terbaik yang ada pada dirinya, sebab aspirasi seluruh tim tergantung di versi ini,” ungkap Mascherano pada Guardian menurut situs prediksi.

“Begitu jelas Leo memerlukan penampilan kolektif kami. Saya mengharap, menjadi teman seklubnya, kami dapat memenuhi standarnya,” imbuhnya.

Walaupun mempunyai Messi dan sejumlah talenta lain, tapi Argentina musti memprotek tempat di Rusia di penghujung masa kualifikasi. Sang superstar pun musti bersusah payah membikin hattrick tuk menghantarkan negerinya menuju laga bergengsi tersebut.

Masa Zidane, Real Madrid Hampir Peroleh Thomas Lemar

No Comments

Pesepakbola superstar tim nasional Prancis, Thomas Lemar, diberitakan hampir gabung Real Madariid, saat masih diasuh oleh Zinedine Zidane. Madariid serta Monaco sudah setuju dengan value perpindahan 60 juta euro tuk Lemar. Dilansir melalui L’Equipe yang kami baca dari berita prediksi, menjelang mengambil keputusan mundur sebagai posisi menjadi manajer yang berasal dari Prancis, Zidane pernah berusaha menghadirkan sejumlah punggawa menuju Madrid. Di samping Sadio Mane, Zidane jua telah mendekati Lemar yang bermain untuk AS Monco.

Malah, surat kabar yang berasal dari Prancis tersebut mengklaim bila Lemar telah setuju gabung Madrid bila Zidane masih terus tinggal. Pemain bola berumur 22 tahun ini, jua telah memohon Monaco guna menjualnya di bursa perpindahan pemain sepakbola di bursa transfer tahun yang akan datang. Kemudian, pihak Monaco sudah menyepakati biaya seharga 60 juta euro dengan Madrid buat perpindahan Lemar. Namun, sehabis keberangkatan Zidane, Lemar diberitakan urung merapat ke Madrid lantaran tiada jaminan ia akan masuk skema manajer yang baru.

Berita yang ada di Spanyol, nama Lemar sekarang malah jadi target tim yang bisa disebut sebagai musuh pertama Madrid yaitu Barcelona. Manajer Ernesto Valverde berminat menghadirkan Lemar sehabis ia menyaksikan sang pemain bermain bagus selama kompetisi musim 2017/18. Tidak cuma Barca, nama Lemar jua masuk di dalam list punggawa target Atletico Madrid. Kebeneran, Los Colconeros akan membebaskan beberapa amunisinya di lini sayap. Jadi, nama Lemar masuk di dalam bidikan bila terdapat pesepakbola mereka yang hijrah.

Tolak menuju Inggris, Joao Cancelo Ngebet pergi ke Juventus

Joao Cancelo diberitakan sudah menolak gabung Inggris buat berlaga di Premier League. Pemain sepak bola yang sepanjang kompetisi musim 2017/18 memperkuat Inter Milan itu, mau bermain di Serie A dan gabung Juventus. Cancelo berlaga di Inter dengan status pemain yang dipinjam dari Valencia. Karena terancam rule Financial Fair Play, Inter tak mempermanenkan status perpindahan Cancelo.

Dilansir melalui Mediaset Premium, nama Cancelo sekarang masuk di dalam target tim promosi Premier League yaitu Wolverhampton Wonderes. Agen Cancelo, Jorge Mendes, mempunyai kedekatan special dengan orang Wolves. Tapi, Cancelo mengambil keputusan buat menolak berlaga di Premier League, walaupun proposal yang diperoleh besar. Pesepakbola yang telah berumur 24 tahun itu merasa kerasan berlaga di Serie A hingga tidak merasa mau pindah bermain di Liga lain. Karenanya, Cancelo pun membuka untuk berkomunikasi dengan orang Juventus. Kebeneran, Juve memang mau menggunakan tanda tangan Cancelo kompetisi musim berikutnya.

Kesempatan Cancelo menuju Juventus tergolong besar. Karena, Valencia benar adanya mempunyai rencana buat melego pemain bola yang berasal dari Portugal ini. Menurut informasi, Juve telah mempersiapkan biaya hingga 40 juta euro agar dapat mendatangkan Cancelo. Cancelo dapat turun di sejumlah pos di lini kanan arena pertandingan. Ia dapat bertanding di posisi winger hingga pemain belakang kanan. Dengan Inter, ia lebih kerap turun menjadi pemain belakang kanan. Juve amat memerlukan tambahan pemain belakang kanan anyar di kompetisi musim berikutnya. Karena, mereka belum lama membebaskan Stephan Lichtsteiner dengan status bebas transfer. Kemudian, usaha mendapat Matteo Darmian tidak juga sukses.

Bukan Emery yang Tentukan Transfer Arsenal

Legenda Arsenal, Tony Adams mempercayai jika bukan Unai Emery yang mengontrol transfer talenta anyar Arsenal pada kompetisi musim berikutnya. Hal-hal ini berkaca di sejumlah pesepakbola yang telah ditandatangani Arsenal selama ini. Berdasarkan penuturan Adams merupakan Sven Mislintat yang mengambil keputusan punggawa yang masuk serta meninggalkan tim tersebut. Hal-hal ini jelas tak sesuai dengan target Arsenal pada kompetisi musim ini.

Betapa tidak, Arsenal sebetulnya lagi berupaya menghempaskan dirinya dari bayangan Arsene Wenger dengan pemilihan Unai Emery. Namun bila Emery tak dikasih kebebasan, hal-hal yang serupa bakal terwujud kembali. Hal-hal itulah yang ia percaya bakal sekali lagi jadi problem Arsenal pada kompetisi musim berikutnya. Yaitu pemain-pemain yang tak pas.

“Pelatih anda tiada keterkaitannya (dengan pemain yang baru). Anda cuma dapat lebih sempurna bila menandatangani talenta besar. Di olah raga ini yang penting merupakan mendapat punggawa yang ideal, ” terang Adams di dailystar yang disadur oleh livescore. “Kita bakal menyaksikan bila pemain yang diajak Ivan Gazidis lumayan sempurna ataupun tak di pasar sepakbola sekarang.”

Disamping itu, Adams menganggap Arsenal barangkali cuma dapat mendapat pemain-pemain sisa yang tak dibidik tim lainnya. Karena Arsenal sendiri lagi di dalam kondisi keuangan yang tak sempurna.

“Itu merupakan pasar yang ramai serta kami barangkali di dalam peringkat terakhir tuk urusan keuangan. Akan sukar apabila mereka cari punggawa terbaik Eropa,” tandas Adams.

5 Blunder Terburuk yang Dilakukan Kiper Timnas Inggris

No Comments

Blunder dalam sepakbola memang acap kali terjadi tidak memihak kepada pemain tertentu tidak peduli ia seorang bintang tersohor seamcam Iker Casilas atau pemain yang bukan pemain bintang sekalipun. Dibawah ini merupakan catatan singkat tentang blunder terburuk yang dilakukan oleh kiper timnas Inggris yang berhasil kami rangkum langsung dari sumbernya:

  1. Peter Bonetti – Jerman Barat 3-2 Inggris (Piala Dunia 1970) Peter Bonetti sebenarnya bukanlah pilihan pertama di bawah mistar gawang timnas Inggris, namun saat itu dirinya menjadi starter setelah kiper utama timnas Inggris,, Gordon Banks menderita karena keracunan makanan. Keputusan itu ternyata memang harus dibayar mahal oleh timnas Inggris. Kiper klub Chelsea itu melakukan beberapa kesalahan yang akhirnya membuat timnas Inggris tumbang olehJerman 2-3. Padahal sebelumnya Inggris unggul 2-0 terlebih dahulu. Gara-gara penampilan Bonetti tersebut akhirnya membuat karier sang kiper di Timnas Inggris semakin tertutup, Bonetti hanya mencatatkan 7 caps saja untuk timnas Inggris. DItambah dengan munculnya nama seperti Peter Shilton & Gordon Banks.
  2. David Seaman – Inggris 1-2 Brasil (Piala Dunia 2002) Skor saat itu sempat imbang melawan Brasil 1-1, tapi Inggris malah melakukan blunder ketika sang kiper harus bertanggung jawab dari gol kedua Brasil. Ronaldinho melancarkan tendangan bebas tepat ke arah gawang timnas Inggris, namun posisi kiper timnas Inggris, David Seaman justru berdiri beberapa meter terlalu jauh dari garis gawang serta membuat Seaman gagal menepis bola yang meluncur keras ke arahnya. Dan Bola pun masuk ke dalam gawang, sekaligus mengubah skor menjadi 2-1 untuk kemenangan Brasil.
  3. Joe Hart – Wales 1-2 Inggris (Fase Grup Euro 2016) Kejadian ini masih hangat teringat di ingatan fans kala timnas Inggris menghadapi timnas Wales di ajang fase grup Piala Euro 2016. Memasuki babak yang kedua, kedudukanmasih bertahan 0-0 dan akhirnya Wales memperoleh hadiah tendangan bebas yang jaraknya cukup jauh di luar kotak penalti. Dan yang ditunjuk menjadi eksekutor dari tendangan bebas tersebut adalah bintang dari Real Madrid, Gareth Bale. Bale pun melepaskan tendangankeras ke arah gawang Inggris. Joe Hart yang bereaksi sangat lambat pun tidak dapat menghentikan tembakan tersebut di saat yang tepat. Dan skor pun berubah menjadi 1-0 untuk keunggulan Wales. Meskipun timnas Inggris mampu membalikkan keadaan pada babak kedua, namun kemampuan Hart kini diragukan usai laga tersebut.
  4. David James – Austria 2-2 Inggris (Kualifikasi Piala Dunia 2006) Timnas Inggris mampu unggul terlebih dahulu 2-0 sebelum akhirnya tim tuan rumah dapat mengejar satu gol lewat tendangan bebas dari Roland Kollman. Meski kiper Inggris, David James tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas kejadian tersebut, namun aksi dari James setelahnya dijadikan headline sebuah surat kabar ternama di Inggris. Berselang semenit dari gol pertama timnas Austria, gelandang timnas Austria, melancarkan tendangan spekulatif dari jarak jauh menuju ke arah gawang timnas Inggris. Meskipun tendangan tersebut seharusnya terlihat mudah bagi David James , sang kiper justru menendang masuk ke dalam gawang setelah terkena lengan kanan dari sang kiper.
  5. Robert Green – (Piala Dunia 2010) Gol Steven Gerrard berhasil menghantarkan Inggris unggul lewat aksinya pada menit ke-4 di laga pertama timnas Inggris di fase grup ajang Piala Dunia 2010 kontra Amerika Serikat. Namun permulaan yang manis tersebut menjadi sia-sia ketika kiper Inggris, Robert Green gagal menepis datangnya bola hasil dari tendangan spekulasi yang di lancarkan oleh Clint Dempsey. Bola tendangan tersebut kemudian lepas dari tangan Robert Green dan meluncur masuk ke dalam gawang timnas Inggris sambil Green merangkak guna mengambil bola tersebut.